Thursday, April 30, 2026

Para Penyair Merayakan Prosesi Penetapan Hari Puisi Indonesia: Puisi Lahir Tak Pernah Mati

SKALAEKONOMI.COM. Para penyair Indonesia akan menggelar acara Prosesi Penetapan Hari Puisi Indonesia yang akan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu, 26 Juli 2025.

Pada acara Konferensi Pers yang berlangsung di Aula PDS HB Jassin, 21 Juli 2025 yang dihadiri penyair penyair Sutardji Calzoum Bachri, Sihar Ramses Simatupang, Herman Syahara, dan Asrizal Nur, sebagai Ketua Panitia.

Pada kesempatan itu secara begantian memberikan keterangan kepada pers bahwa dipilihnya tanggal 26 Juli merujuk tanggal lahirnya penyair Chairil Anwar.

“Salah satu alasannya adalah menjadikan kelahiran Chairil Anwar sebagai spirit kelahiran hari puisi yang perlu kita rayakan dengan gembira,” kata Sutardji Calzoum Bachri, SCB, yang didapuk sebagai presiden penyair Indonesia itu.

SCB secara terus terang mengungkapkan bahwa Hari Puisi Indonesia, harus menyertakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kebudayaan. Selain punya kekuatan otoritas dari kesahihan dan kepercayaan. Soal lainnya pagelaran acara memerlukan dana.

“Kita terus terang sajalah bahwa acara ini memerlukan dana. Dan itu tidak mungkin sepenuhnya dibiayai oleh para penyair,” kata SCB.

Penjelasan SCB dilengkapi dengan kata kata para panyair ini adalah penebar nikmat dapat melahirkan kata kata indah.”Maka nikmat itu harus disyukuri, seperti firman Allah urat Arrahman. Maka nikmatku yang manakah yang kamu dustakan,” kata SCB yang disambut tepuk tangan media yang hadir.

Pada kesempatan itu Sihar Ramses Simatupang menyatakan bahwa Hari Puisi Indonesia merujuk pada hari lahir dan sosok penyair Chairil Anwar bukan berarti ingin mengkultuskan satu penyair saja. Tetapi sebagai penanda jasa kepada salah satu penyair.

“Pada prinsipnya kami ingin memberi penghargaan itu kepada semua penyair terdahulu yang sudah memberikan pikirannya di bidang sastra. Keinginan saya adalah para penyair itu disamakan dengan para pahlawan fisik. Nama nama mereka diabadikan pada nama nama jalan. Semestinya dalam haln ini pemerintah memberikan hal yang sama kepada para penyair,” kata Sihar, sejak mahasiswa di Universitas Airlangga, Surabaya, berkecimpung di dunia sastra.

Ketua Panitia Hari Puisi Indonesia Asrizal Nur kepada wartawan mengatakan, bahwa Hari Puisi Indonesia, tidak an sich milik Yayasan Puisi, tetapi milik semua pecinta sastra.
“Kami hanya menyemangati melalaui gelaran acara tanggal 26 Juli nanti. Dengan dinamakan Hari Puisi Indonesia, punya identitas keindonesiaan. Karena di semua negara, semisal Malaysia, Thailand, dan Vietnam mereka punya hari puisi juga,”ungkap Asrizal Nur.

Pada gelaran acara Hari Puisi Indonesia 26 Juli, selain para penyair terkemuka dari berbagai penjuru negeri, akan hadir pejabat pemerintah pusat dan daerah yang ikut meramaikan dengan membaca puisi.
“Pada acara Prosesi Penetapan Hari Puisi Indonesia akan di gelar di ruang terbuka TIM, dimulai pukul 10.00 WIB hingga malam,”jelas Asrizal Nur.

Hari Puisi Indonesia berawal dari pembicaraan Rida K Liamsi dan Agus R. Sarjono sepulang dari menghadiri acara Hari Puisi di Vietnam.

Gagasan tersebut kemudian ditularkan kepada Asrizal Nur dan Kazzaini Ks, lalu dibincangkan secara lebih serius dengan Maman S. Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda saat mereka bertemu di Korea Selatan dalam suatu acara puisi.

Sepulang dari Korea Selatan, mereka sepakat membentuk Tim Perumus yang disebut Tim Tujuh yang terdiri dari Rida K Liamsi, Agus R. Sarjono, Maman S Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, Asrizal Nur, Kazzaini Ks, dan Jamal D. Rahman. Tim yang bertugas merancang, merumuskan, dan mewujudkan ide Hari Puisi Indonesia. 

Kemudian pada tanggal 22 November 2012, digelarlah Pertemuan Penyair Indonesia (PPI #1) di Pekanbaru (dengan ‘tuan rumah’ Dewan Kesenian Riau) semacam ‘Focus Group Discussion (FGD)’ yang melibatkan perwakilan para penyair dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh sampai Papua.

Setelah melalui perdebatan yang panjang, mereka membuat kesepakatan: 

  • Perlunya Indonesia punya hari puisi yang bisa dirayakan setiap tahun sebagai hari persatuan bangsa sebagaimana negara-negara lain di dunia. Hari Puisi Indonesia ditetapkan sebagai titik ingatan untuk merayakan eksistensi para penyair dan karyanya sebagai aset bangsa.
  • Pemilihan nama Hari Puisi Indonesia memakai kata kunci Indonesia bukan Nasional karena merujuk pada UNESCO yang menetapkan 21 Maret sebagai Hari Puisi Dunia, bukan Hari Puisi Internasional.
  • Tanggal Hari Puisi Indonesia dipilih 26 Juli yang bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar, bukan hari wafatnya, 28 April.
  • Salah satu alasannya adalah menjadikan kelahiran Chairil Anwar sebagai spirit kelahiran hari puisi yang perlu kita rayakan dengan gembira. Sebuah perayaan, tentu tidaklah etis apabila digelar di hari wafatnya.

Untuk menandai lahirnya Hari Puisi Indonesia ditandai dengan pembacaan Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia yang dibaca oleh Sutardji Calzoum Bachri dan didampingi oleh 40 penyair perwakilan daerah yang hadir pada hari itu, yakni: Rida K Liamsi (Riau), John Waromi (Papua), D. Kemalawati (Aceh), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Kazzaini KS (Riau), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Pranita Dewi (Bali), Bambang Widiatmoko (Jakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Agus R. Sarjono (Jakarta), dan Jamal D Rahman (Jakarta), Chavcay Syaefullah (Banten), Husnu Abadi (Riau), Hasan Albana (Sumatera Utara), Hasan Aspahani (Riau), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Marhalim Zaini (Riau), Pandapotan MT Silagan (Sumatera Utara), Jefri Al-Malay (Riau), dan Samson Rambahpasir (Kepulauan Riau). (Dia)

Must Read

Related Articles