Monday, January 19, 2026

Donat Awaknya Dunkin Donuts Jadinya Ada Di Beebagai Negara Cuannya Miliaran Dolar Amerika

SKALAEKONOMI.COM. Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun melihat usaha orangtuanya bangkrut dan tokonya tutup.

Kemudian dia berpikir mencari jalan untuk masa depannya. Dan hasil pemikirannya itu membuat keputusan yang akan mengubah segalanya.

Setelah perang dunia ke dua situasi dan kondisi sosial ekonomi dunia dioanda depresi sangat berat. Akibat anak lelaki bernama William Rosenberg itu putus sekolah.

Untuk membantu kehidupan keluarganya agar bisa makan dan hidup layak, dia bekerja serabutan. Kadang bekerja sebagai pengantar telegram, upahan membawa balok es batu atau menjual keripik seharga 10 sen di arena pacuan kuda lokal.

Di tengah bekerja serabutan itu, dia sadar bahwa dia herus merubah keadaan. Tidak mau terperangkap dalam situasi dan kondisi seperti selama ini dia jalani. Dia bertekad untuk merubahnya.

Kemudian dia menemukan jalan dengan merintis usaha penyedia sarapan ringan, yakni dengan membuat donat yang akan dijual bersamaan dengan kopi. Wah, ini sarapan cara baru di Amerika Serikat.

William menginvestasikan tabungan obligasi perangnya di truk makanan keliling, menjual kopi dan donat kepada pekerja pabrik, dan menyadari sesuatu bisnis yang belum disentuh orang lain.

Awal berjualan hanya dibeli 40 persen dari donat yang diproduksi. Ternyata penikmat donatnya, saat itu pembelinya adalah orang-orang yang hanya mencari makanan untuk sesaat atau jeda.

Perlahan usaha donatnya maju pesat dan merubah cara sarapan orang Amerika. Tadinya donat dan kopinya sebagai camilan saat istirahat. Berubah menjadi untuk sarapan mereka yang tak sempat sarapan di rumah.

Pada tahun 1948, ia membuka sebuah toko kecil di Quincy, Mississippi, bernama The Open Kettle.

Dua tahun kemudian, di sebuah ruangan William bersama para eksekutifnya menggelar meeting. Peristiwa itu direkam dalam sebuah tape recorder, sebagai notulen rapat. Dari meeting tersebut lahir merek Dunkin’ Donuts.

Pada tahun 1955, ia menjual waralaba pertamanya ketika tidak ada yang percaya pada model bisnis itu.

Saat ini, lebih dari 12.000 toko di 40 negara, termasuk di Indonesia, dan incomenya menghasilkan miliaran dolar. (Dia/ dari berbagai sumber).

Must Read

Related Articles