SKALAEKONOMI.COM. JAKARTA.
Kisah kopi bermula di dataran tinggi Etiopia, di mana legenda menceritakan seorang penggembala kambing bernama Kaldi yang menyadari bahwa hewan-hewannya menjadi luar biasa energik setelah memakan buah beri merah dari tanaman tertentu.
Pada abad ke-15, kopi dibudidayakan di seberang Laut Merah di Yaman, tempat para mistikus Sufi menggunakannya untuk tetap terjaga selama malam-malam panjang untuk salat.
Dari Yaman, kopi menyebar ke seluruh dunia Islam, memicu ketaatan sekaligus perdebatan.
Pada abad ke-16, kedai-kedai kopi telah dibuka di kota-kota seperti Mekah, Kairo, dan Istanbul, menjadi pusat diskusi, musik, dan politik yang ramai.
Pihak berwenang di Mekah, khawatir bahwa pertemuan-pertemuan ini mendorong perbedaan pendapat, sempat melarang kopi pada tahun 1511 karena dianggap mempromosikan apa yang mereka sebut “pemikiran radikal.”
Larangan serupa muncul di tempat lain di Timur Tengah dan Kekaisaran Ottoman, meskipun jarang bertahan, karena minuman itu terlalu populer untuk dihentikan dalam waktu lama.
Ketika kopi mencapai Eropa pada abad ke-17, kopi disambut dengan kecurigaan. Banyak anggota ulama mengecamnya sebagai “minuman setan”, karena khawatir akan efek stimulannya dan kaitannya dengan budaya Islam.
Kontroversi ini mencapai Roma, di mana Paus Klemens VIII didesak untuk melarang umat Kristen meminumnya.
Sebaliknya, Paus meminta untuk mencoba secangkir kopi.Setelah mencicipinya, beliau menyatakannya lezat dan menyetujui penggunaannya, yang turut memperkuat posisi kopi di masyarakat Eropa.
Dari sana, kedai-kedai kopi menjamur di London, Paris, dan Wina, menjadi pusat perdagangan dan kehidupan intelektual.(Dia/ Dari pelbagai sumber)

