Wednesday, April 29, 2026

‎Tidak ada buku atau sekolah yang bisa mengajarkan “film laku”.‎

Skalaekonomi.com. Jakarta. Kalau ada yang mengklaim begitu, itu lebih dekat ke brosur marketing daripada realitas industri. Yang ada hanyalah sekolah yang mengajarkan cara membuat film yang benar, bukan cara membuat film yang laris.

Di ruang kelas, Anda belajar struktur tiga babak, karakter, mise-en-scène, hingga distribusi. Tapi begitu keluar dari pintu kampus, Anda berhadapan dengan sesuatu yang tidak pernah diajarkan secara utuh: selera publik yang berubah-ubah dan sering tidak rasional.

Masalahnya, banyak orang, termasuk di Indonesia, masih percaya bahwa “film laku” itu bisa direkayasa seperti rumus matematika. Seolah cukup mengikuti pola: genre tertentu, aktor tertentu, poster tertentu, maka penonton akan datang.

Padahal, sejarah perfilman justru menunjukkan sebaliknya. Film yang dianggap “pasti laku” sering tumbang. Sementara film yang diremehkan justru meledak.

‎Di sinilah letak ilusi terbesar pendidikan film, ia sering terlalu fokus pada craft, tapi gagap membaca pasar sebagai fenomena psikologis dan sosial.

Akibatnya, lahir dua ekstrem, yaitu
‎filmmaker yang pintar secara teknis tapi tidak nyambung dengan penonton
‎atau sebaliknya, film yang laku tapi miskin kualitas karena hanya meniru tren
‎Keduanya sama-sama problematik.

‎Industri film bukan sekadar seni, juga bukan murni bisnis. Ia adalah ruang tarik-menarik antara ekspresi dan konsumsi. Dan titik temu itu tidak pernah stabil.

Tidak bisa diajarkan sebagai resep tetap.

‎Kalau ada “sekolah film laku”, maka Hollywood tidak akan pernah rugi. Faktanya, bahkan studio sebesar Warner Bros. atau Disney pun berkali-kali salah membaca pasar.

Mereka punya data, riset, algoritma, dan tetap bisa gagal.

‎“Laku” bukan ilmu, tapi peristiwa. ‎Yang bisa dipelajari hanyalah:
‎bagaimana jujur pada cerita, bagaimana memahami manusia,
‎bagaimana membaca momentum.

‎Selebihnya adalah keberanian dan intuisi, dua hal yang tidak pernah benar-benar bisa diajarkan, hanya bisa diasah lewat jatuh bangun.

‎Dan mungkin, di situlah ironi sekaligus keindahan dunia film, yang paling menentukan justru hal-hal yang tidak bisa dipastikan.

‎Adisurya Abdy
‎Pegiat Perfilman/Ketua Umum PATFI

Must Read

Related Articles