Home Seni & Wisata Penyebaran Hoax Mengancam Mental Milenial

Penyebaran Hoax Mengancam Mental Milenial

by Admin

Kemajuan teknologi informasi demikian cepat serta dibarengi penggunaan smartphone oleh masyarakat  kian banyak. Hal itu berimbas pada penyebaran Informasi yang mudah dan massif. Tidak jarang, informasi bohong menjadi ancaman bagi pembangunan bangsa.

Hal itu disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh DPP GEMURA di Fakultas Kopi, Setia Budi, Jakarta pada Sabtu (16/2/2019). Diskusi bertajuk, “Hoax Dimana-mana, Apakah Revolusi Mental Gagal?”, dengan narasumber Bursah Zarnubi (Ketua Umum PGK), Agustinus Rahardjo (Deputi IV KSP), Bagiono Prabowo (Praktisi Hukum, BPI), Indrawati Rahmadani (Akademisi).

Pada kesempatan itu Ketua Umum Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo) Bagiono Prabowo menyayangkan sikap pemerintah yang tidak sigap dalam mengatasi hal ini.”Karena dengan mudahnya bisa menuliskan di hp dan menyebarkannya ke hp yang lain. Mestinya Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) sigap mengatasi hal ini. Karena ini bukan saja kebencian yang ditimbulkan tetapi juga memecah anak bangsa,”ujar pria yang disapa Gion, yang juga seorang praktisi hukum.

Lebih lanjut Gion mengatakan bahwa revolusi mental yang dicanangkan pemerintahan Jokowi terbilang gagal. Karena menurut Gion, tidak terlihat adanya perubahan dalam sikap keseharian anak-anak sekolah.”Apakah mereka menunjukkan sikap hormat kepada orang tua dan guru. Basisnya perubahan kan bisa dilihat dari situ. Kemudian di sekolah anak-anak saya kalau tidak mengenakan sepatu yang bagus dan mahal akan dibully oleh teman-temannya,” tutur Gion.

Gion sangat mengapresiasi kepada panitia yang menggelar acara ini.”Ini sangat penting bagi kesadaran anak-anak generasi milenial dalam menggunakan hp dan alat komunikasi lainnya. Karena semua tindakan yang negative akan menimbulkan akibat hukum. Langsung dipenjara,”tutur Gion, sambil mengatakan bahwa kegiatan semacam ini harus dilselenggarakan secara massif.

Sementara itu Bursah Zarnubi menyampaikan, bahwa revolusi mental sebenarnya sudah digelorakan oleh Bung Karno pada 1957. “Ada tiga aspek yang disebut oleh Bung Karno agar bangsa menjadi kuat. Pertama, ekonomi harus mandiri, politik yang berdaulat dan berkepribadian di bidang sosial-budaya. Ketiganya harus dikuatkan agar tidak mudah terpecah, namun hoax ini jadi ancaman bagi persatuan bangsa,” imbuh Bursah.

Perkembangan teknologi ini mengancam revolusi mental. Hanya dengan jari setiap orang bisa menyebarkan berita hoax. Salah satu cara mengantisipasi adalah terus-menerus mbangun karakter bangsa melalui revolusi mental.

“Saya yakin pemerintah telah berupaya mewujudkan revolusi mental itu melalui pemerataan pembangunan, penguasaan potensi negara misalnya 51 persen saham Freeport. Adapun yang menilai bahwa revolusi mental gagal itulah yang belum memahami hakikat revolusi mental,” paparnya.

Bursah mengatakan, di Era Industri 4.0 yang kesemuanya mengarah pada teknologi, harus disambut baik oleh Millenial. Bursah Millenial harus melihat itu sebagai peluang, disamping juga menumbuhkan mental literasi di setiap lini kehidupan. Pendidikan menjadi faktor penting untuk mendukung semuanya.

“Hoax ini berawal dari kurangnya literasi dari masyarakat, mereka mudah menyebarkan berita bohong tanpa menyaringnya. Kita sadari bahwa literasi kita masih lemah. Di Eropa dan Amerika, warganya membaca sekitar 4 hingga 5 jam sehari. Di Indonesia, masyarakat hanya 30 menit hingga sejam saja dalam membaca literatur. Jika ingin menuju peradaban modern, pemerintah harus menggarisbawahinya agar ditangani,” harapnya.

Sadangkan Ketua Gemura, Yasir, mengusulkan agar pengguna medsos ditentukan usianya.”Di batasi pada usia berapa mereka boleh menggunakan medsos. Saya sangat setuju dengan beberapa panelis dan penanya tadi anak-anak milenial disediakan fasilitas untuk lebih meningkatkan prestasi, selain di bidang keilmuan, bisa juga di bidang seni dan olahraga,”pungkasnya. Didang P. Sasmita

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More