Home Seni & Wisata Chand Parwez Servia : Kualitas Film dan Kuantitas Bioskop Tingkatkan Penonton Film

Chand Parwez Servia : Kualitas Film dan Kuantitas Bioskop Tingkatkan Penonton Film

by Admin

Dalam peta perfilman Indonesia, Kharisma Starvision Plus, memiliki ‘warna’ yang terang dan bernas. Setiap tahunnya tidak kurang delapan judul film cerita diproduksi dengan beragam genre dan cerita.

Menengok kebelakang, sepanjang tahun 2018, hingga medio bulan Desember, dikatakan Cahnd Parwez Servia, film Indonesia makin disukai oleh pentonton film.”Market share film Indonesia sudah mendekati lima puluh persen. Kami harapkan penonton film Indonesia akan terus meningkat di tahun dua ribu Sembilan belas. Bisa jadi satu judul film bisa dironton sekitar sepuluh juta pasang mata,”ujar pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, yang biasa disapa Parwez ini.

Meningkatnya penonton film Indonesia, dalam pandangan Parwez, paling tidak ada dua variable yang menentukan. Pertama meningkatnya kualitas film, dan kedua hadirnya bioskop-bioskop baru di level daerah tingkat dua : kabupaten dan kota.

”Seperti kit ketahui bahwa penonton film Indonesia di daerah tingkat dua kabupaten dan kota itu paling banyak. Dengan berdirinya bioskop di berbagai daerah itu, turut meningkatkan pasar film. Penonton makin banyak,”ungkap dia.

Dengan tersedianya ruang ruang menonton film makin banyak meningkatkan gairah untuk terus memproduksi film. Tetapi, tentu saja film yang berkualitas yang disukai masyarakat.”Karena penonton film Indonesia semakin pintar, bisa memilih dan memilah film yang mau ditonton. Hal ini juga akan berakibat meningktnya biaya produksi. Tapi itu sesuatu yang awajar saja. Jadi, tidak ada lagi membuat film berbiaya rendah akan men ghasilkan penonton banyk,”tutur Parwez.

Selain kualitas keragaman cerita atau genre film juga harus dipikirkan agar penonton punya pilihan sesuai dengan selera mereka. Kondisi ini dilihat oleh Starvision sebagai peluang dan tantangan.”Maka kami di tahun depan sudah menyiapkan sekitar delapan judul cerita dengan genre yang bervariasi. Drama, horror, dan komedi. Di awal tahun kami mulai dengan judul film Tabu, bergenre horror,” ceritanya.

Menanggapi adanya himbauan dari pengelola bioskop untuk mengurangi film horror, dalam pandangan Parwez himbauan itu sebagai sesuatu yang positif. Karena bula lebih dari lima puluh dua judul film dalam setahun, maka akan bertemu dalam satu pekan ada dua judul film, bahkan tiga judul film horror tayang di bioskop.”Kondisi ini membuat penonton film tidak punya pilihan genre yang lain dan akibatnya penonton akan jenuh dengan film horror,”kata Parwez.

Dalam industry perfilman Indonesia aada empat steak holder memiliki peran strategis : produser, bioskop, penonton film, dan pemerintah. Ke empat steakholder ini, tidag sudah dijelaskan di atas, sementara peran pemrintah juga tak kalah pentingnya.

Ke depan Parwez berharap pemerintah memberikan ruang yang lebih kondusif bagi peningkatan kemajuan perfilman Indonesia. Selain melalui regulasi, paling tidak kata Parwez tidak merusak koridor yang sudah terbetbangun selama ini, dan banguan dalam memproduksi film-film semisal bertemakan pendidikan dan kebangsaan.

Dalam posisinya sebagai Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang menaungi berbagai organisasi perfilman Indonesia dalam waktu dekat akan membuat semacam wadah diskusi antara pemerintah dan orang-orang film untuk lebih mempercepat lajunya peningkatan perfilman Indonesia.

Meski bagi Kharisma Starvision Plus tahun 2018 kurang menggembirakan, Parwez masih legowo melihat kolega –kolega dalam satu profesi, produser film, meraih banyak penonton. Pada gilirannya meningkatkan kepercayaan penonton terhadap film Indonesia.”Paling tidak tahun ini ada lebih dari tiga belas judul film meraih penonton di atas satu juta. Semoga saja tahun depan kami terus bersaing untuk menghasilkan karya –karya yang berkualitas,” kata dia.

Bagi Parwez membuat film yang berkualitas bukan saja sebagi pemenuhan harapan bagi penonton film. Tetapi, juga sebagai wahana investasi budaya dan intelektual di bidang perfilman di Tanah Air.”Film selain tontonan, juga sebagai sebuah produk budaya, dan dikerjakan dengan pemikiran yang serius secara intelektual. Apakah itu ceritanya, juga pemasarannya,” tutup Parwez. Didang P.Sasmita

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More