Di tengah meningkatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi, Generasi Z tumbuh sebagai kelompok paling adaptif terhadap teknologi keuangan.
Transaksi nontunai, dompet digital, hingga fitur buy now pay later telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat persoalan mendasar yaitu literasi keuangan yang belum memadai.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK (2022) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan Indonesia baru mencapai 49,68 persen, sementara inklusi keuangan telah menyentuh 85,10 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan meningkat, namun tidak diimbangi dengan pemahaman masyarakat, khususnya generasi Z dalam mengelola pendapatan, menyusun perencanaan keuangan, mengendalikan perilaku konsumtif, serta mengambil keputusan investasi yang rasional dan bertanggung jawab Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Dian Nusantara melakukan pelatihan tatap muka di SMK Budi Perkasa, Tambun, Kabupaten Bekasi.
Sebanyak 47 siswa kelas XII mengikuti kegiatan yang dirancang secara interaktif dan aplikatif. Fenomena konsumtif di kalangan Gen Z semakin diperkuat oleh maraknya e-commerce dan tren media sosial.
Banyak pelajar sudah akrab dengan transaksi digital, namun belum memahami skala prioritas pengeluaran, risiko investasi, maupun pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang.
Fathihani menyebutkan bahwa rendahnya literasi keuangan dapat berdampak pada meningkatnya risiko pengambilan keputusan finansial yang keliru, termasuk kerentanan terhadap investasi illegal.
Dalam konteks ini, fenomena fear of missing out (FOMO) terhadap tren investasi menjadi tantangan serius. Program ini juga dilengkapi dengan monitoring pascakegiatan untuk memastikan materi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendampingan berkelanjutan membantu siswa membentuk kebiasaan finansial yang lebih disiplin dan terarah. Edukasi keuangan tidak berhenti pada satu pertemuan, tetapi menjadi proses pembelajaran yang berkesinambungan.
Generasi muda perlu memahami bahwa keputusan finansial hari ini menentukan stabilitas ekonomi di masa depan. Perencanaan keuangan, pembentukan dana darurat, serta investasi rasional bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Di era digital yang serba instan, membangun kesadaran finansial sejak dini adalah investasi paling strategis. Sebab generasi yang cerdas secara finansial bukan hanya mampu mengelola uangnya, tetapi juga mampu mengelola masa depannya.
