SKALAEKONOMI.COM. JAKARTA. Peringatan Hari Film Nasional tahun 2026 digelar di CGV , Brand Indonesia, Jakarta, Rabu 1 April 2026 dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, dan masyarakat perfilman, di antaranya Ketua Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) Sonny Pudjisasono, SH, MBA.
Peringatan dilaksanakan dengan pemutaran film Darah dan Doa, karya pertama sutradara UsmarI smail.
“Ketika memulai syuting film Darah dan Doa dilaksanakan pada tanggal 30 Maret tahun 1950. Tanggal 30 Maret inilah yang dijadikan sebagai Hari Film Nasional pada setiap tahunnya, ” ujar Sonny dalam sambutanya dalam sesi Dialog dengan para undangan yang hadir.
Pada kesempatan itu juga Sonny mendeklarasikan Getrakkan Penyelamatan Pengarsipan Perfilman Nasional.
” Ini adalah gerakkan membangkitkan kesadaran masyarakat umum, khususnya masyarakat perfilman, dan juga pemerintah bahwa pentingnya untuk menyelamatkan pengarsipan khasanah kekayaan perfilman yang tersimpan di Sinematek Indonesia yang dikelola oleh YPPHUI,” ungkap Sonny.
Selama ini, penyelamatan pengarsipan itu dilaksanakan oleh Sinematek Indonesia dengan dana swasta mandiri.
“Kami berusaha sendiri untuk menyelamatkan ribuan film yang tersimpan dalam bentulk celelouid, digital, dan dokumentasi berita berita kliping media cetak puluhan tahun lalu. Sampai hari ini tidak ada satu rupiah pun bantuan dari pemerintah dalam merawat dan menjaga penyelamatan pengarsipan perfilman ini,” jelad Sonny.
Padahal, dengam adanya Sinematek Indonesia, maka film film lama bisa diselamarkan.
“Seperti film Darah dan Doa yang baru saja kita saksikan. Masih bisa ditonton karena dijaga dan dirawat. Meskipun fillm Darah dan Doa masih perlu direstorasi agar lebih baik dari kondisinya yang tadi kita tonton, ” jelas Sonny lagi.
Kembali Sonny mengingatkan bahwa film film lama perlu didokumentasikan dengan pengarsipan dengan baik karena film adalah wajah peradaban sebuah bangsa.
“Apa yang kita saksikan dalam film yang diproduksi dalam kurun waktu, menggambarkan situasi kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat pada saat itu. Dari sana kita bisa belajar khususnya mengenai perfilman dan peradaban saati itu,” tegas Sonny.
Artinya Sinematek Indonesia bisa dimanfaatkan untuk studi mahasiswa dan orang asing yang berkaitan dengan perfilman dan sosial lainnya. Seperti yang sudah berjalan selama ini.
Ia mengajak yang hadir menggelorakan gerakkan penyelamatan pengarsipan perfilman nasional.
“Karena kita sedang menyelamatkan aset bangsa,” tutup Sonny (dd)
