Monday, August 3, 2026

Muhammad FA Wibowo Raih Kemenangan Kedua di Italia pada IAME Series Italy Round 5

SKALAEKONOMI. LONATO, ITALIA. Pembalap muda Indonesia, Muhammad FA Wibowo, kembali mengharumkan nama bangsa setelah meraih gelar juara pada IAME Series Italy Round 5 yang berlangsung di South Garda Karting, Lonato, Italia.

Kemenangan ini menjadi gelar kedua Muhammad FA Wibowo di Italia pada musim kompetisi 2026.

Muhammad menunjukkan performa yang konsisten sejak awal akhir pekan balapan. Ia mengawali kompetisi dengan menempati posisi kedua pada sesi kualifikasi dengan catatan waktu 55.202 detik.

Tren positif tersebut berlanjut dengan finis P2 pada Heat 1 dan P4 pada Heat 2, yang menempatkannya sebagai salah satu kandidat kuat dalam perebutan gelar juara.

Pada balapan final, Muhammad kembali tampil kompetitif di barisan depan. Memasuki tikungan terakhir sebelum garis finis, ia memanfaatkan peluang dengan melakukan manuver overtake yang bersih dan presisi untuk merebut posisi terdepan, kemudian menyentuh garis finis di posisi pertama (P1).

Keberhasilan ini menjadi bukti konsistensi performa, ketangguhan mental, dan kemampuan Muhammad FA Wibowo dalam bersaing di level internasional.

Pencapaian tersebut semakin memperkuat kiprahnya sebagai salah satu pembalap muda Indonesia yang mampu meraih prestasi di ajang balap gokart Eropa sekaligus mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.***

Bank Amar dan JAFF Membuka Kran Finansial untuk Pembiyaan Produksi Film Indonesia

SKALAEKONOMI.COM.JAKARTA. Kemajuan industri film di Indonesia telah membuka peluang yang besar bagi penggiat perfilman untuk meningkatkan aspek kualitas dan kuantitasnya. Namun, kemajuan itu belum sepenuhnya bisa berjalan dikarenakan belum adanya dukungan finansial dari lembaga keuangan baik pwmerintah dan swasta yang meniliki program berupa pinjaman atau pun investasi.

Untuk mengawali kemandegan itu,
PT Bank Amar Indonesia (Amar Bank), bank digital yang fokus melayani segmen ritel dan UMKM, kini menggandeng Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) untuk mendorong kesiapan finansial industri kreatif lewat integrasi tata kelola berbasis teknologi.

Kolaborasi ini lahir dari data yang tak bisa diabaikan. Ekonomi kreatif Indonesia mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp1.757,87 triliun pada 2025, tumbuh 6,86 persen secara tahunan dan jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,11 persen.

Subsektor film, animasi, dan video menjadi motor utamanya, dengan pangsa pasar box office nasional mencapai 58 persen serta menopang sekitar 387.000 lapangan kerja.

Namun besarnya potensi pasar ternyata bukan lagi menjadi persoalan utama industri ini. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana pelaku industri kreatif membangun model bisnis yang mampu meyakinkan lembaga keuangan.

Pendekatan underwriting perbankan konvensional umumnya bertumpu pada proyeksi arus kas dan kepastian agunan, sementara aset utama industri film berupa kekayaan intelektual belum memiliki standar valuasi finansial layaknya aset fisik.

Menjawab kesenjangan itu, Amar Bank merancang model analisis pembiayaan yang lebih adaptif terhadap karakter bisnis kreatif.

Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, menjelaskan alasan di balik pendekatan tersebut.

“Amar Bank melihat industri kreatif memiliki karakter bisnis yang unik dan umumnya berbasis proyek. Karakter inilah yang coba kita pahami lewat penyediaan teknologi keuangan adaptif. Untuk itu, Amar Bank memilih pendekatan nurturing, di mana teknologi kami mendampingi pemilik usaha di sektor kreatif agar menjadi bankable dan siap mengakses layanan keuangan,” ujarnya.

Pendekatan ini diwujudkan lewat layanan Amar Bank Bisnis. Melalui integrasi teknologi digital, pemilik usaha dapat membangun rekam jejak transaksi, merapikan pencatatan keuangan, memperkuat tata kelola internal, sekaligus mengelola dokumen operasional dalam satu platform.

Josua menegaskan, kedisiplinan finansial yang terbentuk lewat platform ini akan berdampak langsung pada akses pembiayaan.

“Saat kedisiplinan dan transparansi finansial terbentuk, sistem perbankan dapat mengukur tingkat kelayakan kredit secara presisi. Semakin kuat dan rapi tata kelola usahanya, semakin besar peluang serta fleksibilitas pembiayaan produktif yang dapat disalurkan,” katanya.

Amar Bank berharap langkah ini tidak hanya melahirkan karya film yang lebih kompetitif, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi seluruh rantai pasok industri, mulai dari rumah produksi hingga UMKM pendukungnya.

Ke depan, Amar Bank dan JAFF berencana menggelar forum diskusi bersama enam asosiasi yang mewakili berbagai profesi di industri perfilman.

Forum ini diharapkan mempercepat inklusi keuangan bagi ekosistem perfilman secara menyeluruh.

Dengan partisipasi Amar Bank dan JAFF, kami mengajak para pemangku kepentingan di industri kreatif, baik asosiasi maupun pembuat kebijakan, untuk berkolaborasi bersama membangun industri film yang semakin bankable dan memperluas akses pembiayaan produktif bagi ekonomi kreatif Indonesia,” tegas Josua.,(dd)

Must Read

Related Articles