Bertepatan Sumpah Pemuda, GPM Gelar Kongres X di TMII Pertegas Arah Ideologi

Jakarta — Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) merayakan perjalanan organisasinya melalui gelaran Kongres X di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Mengangkat tema “Marhaenist Future: Dedication of Life, Tetap Setia di Jalan Ideologi”, agenda tertinggi organisasi ini berfokus pada langkah konsolidasi, penataan kaderisasi, dan pemantapan arah perjuangan ideologi Marhaenisme dalam merespons dinamika zaman.

Kongres ini menjadi ruang evaluasi sekaligus refleksi untuk menegaskan kembali keberadaan Marhaenisme dalam kehidupan berbangsa. GPM memosisikan ajaran Bung Karno tersebut bukan sekadar wacana sejarah, melainkan garis perjuangan hidup yang terus berpihak pada rakyat kecil, menolak penindasan, dan mendorong keadilan sosial.

Ketua Panitia Kongres X GPM, Ericko Pandu Sumbogo, menyatakan bahwa gagasan “Marhaenist Future: Dedication of Life, Tetap Setia di Jalan Ideologi” diusung untuk menjaga keberlanjutan cita-cita perjuangan. Menurutnya, bentuk nyata kesetiaan pada ajaran organisasi tecermin dari kerja pengabdian kepada masyarakat, pembenahan internal, hingga penyiapan generasi penerus agar ideologi ini senantiasa relevan.

Rangkaian acara pembukaan diisi oleh pandangan dan pidato kunci dari para tokoh, mulai dari Ericko Pandu Sumbogo, utusan Kementerian Dalam Negeri, Ketua Umum DPP GPM Ir. Izedrik Emir Moeis, M.Sc., hingga Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

Mewakili Mendagri, Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kemendagri Wahyu Chandra Kusuma Purwonegoro, S.H., M.Hum., menggarisbawahi krusialnya pengamalan nilai Marhaenisme dan asas berdikari dengan menjadikan kesejahteraan rakyat kecil sebagai prioritas bernegara.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP GPM Emir Moeis mendorong penguatan program kerja berlandaskan pendidikan dan kebudayaan. Langkah ini dinilai strategis untuk membumikan kembali pemikiran Bung Karno di kalangan anak muda sebagai pijakan menyelesaikan problem sosial.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto turut menyerukan kepada seluruh kader agar terus menggali dan merumuskan ulang pemikiran Bung Karno. Ia menegaskan Marhaenisme harus tetap hidup sebagai doktrin pembebasan masyarakat tertindas dalam panggung politik nasional demi menjaga cita-cita kemerdekaan.

Sejumlah tokoh nasional dan senior organisasi turut hadir menyaksikan gelaran ini, di antaranya Ketua Dewan Pembina GPM William M. Tutuarima, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati, Sekretaris Dewan Pakar PA GMNI Karyono, serta Jacobus K. Mayong Padang.

Hasil dari Kongres X diproyeksikan melahirkan deretan rekomendasi strategis serta haluan kerja organisasi untuk memantapkan kaderisasi dan aksi nyata bagi masyarakat. Momentum Sumpah Pemuda ini sekaligus menegaskan komitmen generasi muda GPM dalam merespons tantangan masa depan, menjaga nilai keadilan sosial, dan mempertahankan keutuhan NKRI.

Must Read

Related Articles