SKALAEKONOMI. COM. BANDUNG. Bimbo grup musik legendaris asal Bandung, dikenal dengan lirik lagunya yang puitis. Lagu lagu Flamboyan, Adinda, Melati dari Jayagiri. Atau lagu religi Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, Tuhan, Sajadah Panjang, Rindu Rasul. Karya Bimbo yang terbit di tahun 70an hingga hari ini masih bisa dinikmati.
Bimbo didirikan setengah abad yang lalu 1966 oleh tiga saudara, Sam Bimbo, Acil Bimbo, Jaka Bimbo, kemudian dilengkapi adik perempuan, Iin Parlina.
Pada Rabu, 6 Mei 2026, sulung personel Bimbo, Samsudin Hardjakusumah, atau Sam Bimbo merayakan ulangtahun yang ke 84, di resto kawasan Dago, Bandung. Duduk berdampingan dengan istri Rubaah Samsudin, Kang Sam– sapaannya–ngobrol dengan suara yang jelas dan bahasa yang bernas.
“Pastinya saya sangat bahagia sekarang unur 84 tahun masih bisa nyanyi, masih bisa komunikasi. Namun saya rasakan juga memori mengalami gradasi alami ya,” ujar pria bernama lengkap Samsudin Hardjakusumah kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 6 Mei 1942
Kemudian dia bercerita tentang perjalanan dan karirnya di dunia musik Indonesia. Dahulu, awal mereka mendirikan Bimbo di tahun 1966, situasi dan kondisi bermusik berbeda jauh.
“Sekarang ini menjadi musisi terbuka lebar dan dengan fasilitas yang memudahkan untuk berkarya,” ungkapnya.
Di era 70an belum ada standar honor manggung atau rekaman yang menggiurkan seperti sekarang Apalagi memasalahkan royalti, jaman itu belum akrab dengan istilah royalti.
Lagu lagu Bimbo, selain melantunkan tema cinta dengan nada puitis nan indah, sebagai anak anak muda bergelar sarjana, Kang Sam lulusan Seni Rupa ITB, dan Acil dan Jaka alumni Universitas Pajajaran, memiliki idealisme dan nalar kritis ketika ada fenomena sosial. Seperti lagu Tante Sun dirilis dan hits di tahun 1977.
Dijelaskan Kang Sam lagu Tante Sun sebagai lagu kritik sosial terhadap perilaku istri pejabat pada masa itu.
“Lagu itu oleh wartawan digiring seakan akan lagu itu menyindir kekeluarga penguasa. Kami secara umum saja. Seperti wartawan menuliskan peristiwa menjadi berita sementara kami, grup musik menjadi lagu,” ujar Kang Sam.
Peristiwa politik dunia, perang dingin Amerika Serikat dengan Uni Sovyet–sekarang Rusia. Bimbo di awal tahun 80an menggubah lagu Surat untuk Reagan dan Brezhnev.
“Ada informasi Bimbo diundang keliling Uni Sovyet oleh Presiden Leonid Brezhnev. Tetapi dilarang oleh salah satu lembaga. Karena kami ke sana, maka akan ada seniman dari Sovyet yang minta keliling Indonesia, karena itu kami batal berangkat,” kenang Kang Sam.
Lagu lagu Bimbo mendendangkan kekhawatiran mengenai habisnya hutan dan rusaknya lingkungan, satu di antaranya lagu Sebuah Citra Yang Hilang, dinyanyikan Acil.
Sam Bimbo yang bersahabat dengan Menteri Lingkungan Hidup saat itu Emil Salim, diundang ke Istana Negara dalam acara Konferensi Lingkungan Hidup.
Mereka berempat Sam, Acil, Jaka dan Iin hadir mengenakan busana resmi jas. Namun, oleh security mereka ditempatkan di meja paling belakang.
“Saya dan Acil protes, kami diundang secara resmi kenapa di sini mejanya. Saya ajak pulang semua, tapi Iin bilang sabar. Ketika jeda acara, dan tamu dipersilahkan mencicipi hidangan. Kami dipanggil ke panggung dan diajak berdialog presiden. Security tadi terbengong bengong,” cerita Kang Sam.
Namun, dalam bermusik, Bimbo tidak serakah, ia membagi ruang bagi pencipta lagu termasuk Iwan Abdulrahman lagu Melati dari Jayagiri. Kemudian Titik Puspa dengan karyanya lagu Sendiri, Adinda, Satu Dia, dan lainnya. Penyair Taufik Ismail puisi puisinya digubah menjadi lagu di antaranya Sajadah Panjang, Rindu Rasul, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, dan lainnya.
Baik lagu lagu yang disebutkan di atas dan karya Sam, Jaka maupun Acil kebanyakan dinyanyikan oleh Acil. Sepeninggal Acil wafat 1 September 2025 karena sakit, Kang Sam mengakui kesulitan jika harus tampil.
“Karena kunci suara saya dengan Acil berbeda. Saya tinggi, sementara Acil standar,” ungkap Kang Sam.
Sejak dulu kegiatan musiknya kerap diselingi dengan kegiatan profesinya sebagai pelukis.
“Saya belajar melukis aliran natural, bagaiamana melukis manusia bayi, usia kanak kanak, remaja, dewasa dan tua. Dan itu harus terlihat natural. Sudah puas dengan aliran natural saya sekarang sedang asyk melukis abstrak,” kata seniman lukis, yang karyanya terpajang di Gedung MPR RI, di Gedung PLN di Bandung, dan Kedutaan Indonesia di Bangkok.
Selama ngobrol, duduk di samping Kang Sam Bimbo, istri tercinta Teh Rubaah Samsudin.
“Di awal awal pernikahan sih ya, pastilah ada rasa cemburu. Saya dinasehati ayah saya, tidak usah cenburu terus, nanti malah kejadian. Kang Sam adalah suami dan ayah yang baik. Di usia 84 tahun ini, saya harus dampingi kemana beliau pergi. Saya selalu ingatkan ibadahnya untuk bekal pulang,” kata Teh Rubaah.
Salah seorang penggemar berat Bimbo, Rza Falepi mantan Walikota Payakumbuh dua periode 2012-2022 mengenal lagu lagu Bimbo sejak remaja.
“Selain liriknya puitis juga ada konteksnya dengan situasi sosial, politik dan lingkungan. Tidak melulu soal cinta,”kata Riza juga alumni ITB yang hadir di acara ulang tahun Sam Bimbo.***

