SKALAEKONOMI.COM. JAKARTA. “Bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi tempat orang mencari arti”.
Ada yang ganjil, tapi terus dianggap wajar: orang-orang berbondong masuk ke industri film Indonesia, dari aktor, kru, hingga penulis, meski tahu penghasilannya tak pasti, kontraknya sering kabur, dan masa depannya lebih banyak spekulasi ketimbang perencanaan. Ini bukan sekadar soal cinta pada seni. Itu terlalu sederhana, bahkan cenderung menipu.
Industri film kita dibangun di atas fondasi yang timpang: sistem kerja longgar, perlindungan minim, dan distribusi kesempatan yang tidak merata. Mereka yang sudah mapan terus berputar di lingkaran yang sama, sementara pendatang baru dipaksa bertahan dengan imbalan yang sering kali tak layak. Ironisnya, kondisi ini justru dinormalisasi, dibungkus dengan istilah “proses”, “jam terbang”, atau lebih buruk lagi: “passion”.
Di sinilah jebakan itu bekerja. Passion dijadikan alat pembenaran untuk ketidakadilan. Orang diminta mencintai pekerjaannya, tapi tidak diberi kepastian untuk hidup dari pekerjaan itu. Sebuah kontradiksi yang dibiarkan berlarut-larut.
Namun, mengapa mereka tetap bertahan? Karena film menawarkan sesuatu yang tak diberikan banyak sektor lain, yaitu ilusi kemungkinan.
Satu proyek bisa mengubah nasib. Satu kredit bisa membuka pintu. Ini adalah industri yang menjual harapan dalam dosis kecil tapi cukup untuk membuat orang terus tinggal. Ditambah lagi, ada gengsi kultural yang diam-diam bekerja. Nama di layar, undangan festival, atau sekadar pengakuan dalam lingkaran komunitas, semuanya menjadi mata uang sosial yang bagi sebagian orang, terasa lebih berharga daripada kestabilan finansial.
Tapi mari jujur: ini bukan semata pilihan bebas. Banyak yang bertahan bukan karena tak tahu risikonya, melainkan karena sistemnya memang tidak memberi banyak alternatif yang adil. Keluar berarti kehilangan identitas. Bertahan berarti menerima ketidakpastian.
Industri ini akhirnya menjadi ruang paradoks: tempat orang mencari makna, tapi sering kehilangan kesejahteraan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, film Indonesia akan selalu bergantung pada mereka yang rela dibayar murah demi mimpi besar. Idealisme bisa menyalakan api, tapi tanpa keadilan, ia hanya akan terus membakar orang yang sama.
Adisurya Abdy Ketua Umum
PATFI – Perkumpulan Tenaga Ahli Televisi dan Film Indonesia
Adisurya Abdy: Dunia film Indonesia adalah Ilusi Kemungkinan
