Home Uncategorized Karena Film Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Gubernur Sahbirin Noor menerima Citra Wicaksana

Karena Film Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Gubernur Sahbirin Noor menerima Citra Wicaksana

by Admin

Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor dianugerahi Citra Wicaksana oleh Badan Pengurus Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (YPPHUI) yang diketuai H. Sonny Pujisasono, di Sinema Hall, Gedung PPHUI, Kuningan, Jakarta, 26 Desember 2022.

Penganugerahan itu atas upaya Sahbirin Noor ikut memajukan perfilman nasional melalui film biopic Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

“Kita patut memberikan penghargaan kepada otoritas pemerintah daerah yang berupaya membuat film tokoh atau kearifan lokal daerahnya. Kami dari Yayasan Pusat Perfilman di sini akan terus memonitor dan memberikan support kepada otoritas daerah yang ikut memajukan perfilman Indonesia. Kami apresiasi mereka dengan memberikan Citra Wicaksana. Tunggu saja informasi selanjutnya dari kami, siapa yang akan mendapatkan Citra Wicaksana,” ungkap Sonny Pujisasono, Ketua Yayasan PPHUI pada acara penyerahan Citra Wicaksana dan launching film biopic Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah seorang ulama besar yang berasal dari Kerajaan Banjar di Martapura, Kalimantan Selatan. Ia lahir di Martapura, yang menjadi salah satu pusat keagamaan Islam di Indonesia pada abad ke-16.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari berperan besar dalam penyebaran Islam pada abad ke-18. Ia merupakan pengarang Kitab Sabilal Muhtadin, yang menjadi rujukan bagi para mahasiswa yang mendalami agama Islam di Asia Tenggara dan Mesir.

whatsapp image 2022 12 27 at 14.48.10

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir di Martapura, Kalimantan Selatan, pada 17 Maret 1710 M atau 1122 H. Nama asli Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah Sayyid Ja’far Al-Aydarus. Ia kemudian mendapat julukan Datu Kalampaian.

Sejak kecil hingga dewasa, ia belajar agama Islam langsung dari keluarganya. Di samping itu, ia juga diberikan pelatihan membuat kaligrafi. Sekitar umur 30 tahun, Muhammad Arsyad al-Banjari ingin melanjutkan pendidikannya ke Tanah Suci Mekkah.

Keinginan itu dikabulkan oleh pemerintah Kesultanan Banjar pada 1739.Muhammad Arsyad al-Banjari berangkat ke Arab dan melakukan ibadah haji terlebih dulu. Setelah itu, ia bermukim di Haramain selama beberapa tahun untuk menuntut ilmu agama Islam.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, memfilmkan jejak kehidupan beliau dalam sebuah film berjudul ‘Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari’ (Matahari dari Bumi Banjar).

Untuk memperkuat karakter tokoh dalam film, PT. Expressa Pariwara Media Production yang diberikan kepercayaan menggarap film ini, melibatkan aktor Billy Boedjanger, Asrul Dahlan serta Afrizal Anoda. Selain itu, juga melibatkan putra-putri Kalimantan Selatan diantaranya, siswa sekolah Perfilman SMKN 2 dan SMKN 3 Banjarmasi, Yadi Muryadi, M. Syahriel dan Paman Birin (Dr. H. Sahbirin Noor, S.sos, M. H., Gubernur Kalimantan Selatan) beserta ASN jajaran instansi Kalimantan Selatan.

whatsapp image 2022 12 27 at 14.53.15

Pemerintah Provisi Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, memilih mengangkat kisah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari seorang tokoh ulama multi disiplin dari Tanah Banjar diangkat ke sebuah film, karena dengan ke dalaman Ilmu agama, ilmu pengetahuannya yang mencakup aturan-aturan Fiqih, pengajaran ilmu Tasawuf, serta mampu memperkuat keagamaan di Kesultanan Banjar,” ujar Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor

Film Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, menampilkan gambaran tentang pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari kepada generasi muda yang dalam sejarahnya mampu memperkuat keagamaan Kesultanan Banjar dan kerajaan-kerajaan Islam, beliau juga tercatat dalam sejarah sebagai penggaggas Mahkamah Syar’iyah yang menjadi cikal bakal Pengadilan Agama di Indonesia.
“Kitab Sabilal Muhtadin karya masyur beliau memuat aturan-aturan Fiqh sebagai dasar hukum Islam yang berlaku di Kesultanan Banjar dan kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya.

Gaya perfilman Jean Luc Godard, seorang Sineas Perancis Swiss menjadi referensi Sutradara dalam menggambarkan adegan film melalui Point of View Sang Tokoh Utama. (kd)

You may also like

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More