Film Rarangken Hadirkan Mitos Sunda ke Layar Lebar. FFHoror Memberi Penghargaan Kepada Pemain Baskara Mahendra dan Adinda Thomas

SKALAEKONOMI.COM. JAKARTA – Film genre horor masih menduduki ranking terdepan di pentas perfilman nasional.

Kali ini PAS Production memproduksi film berjudul Rarangken. Satu cerita mistis yang berasal dari cerita budaya masyarakat Sunda.

Soft launching film Rarangken diselenggarakan di Cafe Besok Pagi, di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, 25 Oktober 2026.

Di tempat yang sama, selaku panitia Festival Film Horor (FFHoror), Ismail Sidik Shihab mengumunkan pemenang penghargaan bulanan untuk film, sutradara, dan pemain dari panitia FFHoror.

Kehadiran film Rarangken  menawarkan pendekatan horor yang memadukan ketegangan supranatural dengan legenda disutradarai RGH berupaya menghadirkan pengalaman horor yang tidak hanya bertumpu pada teror dan kejutan, tetapi juga mengangkat misteri benda pusaka, rahasia keluarga, serta kepercayaan yang diwariskan lintas generasi.

Cerita berpusat pada Ranti, yang diperankan Vanny Meisella, ketika kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat orang sahabat. Kepulangan tersebut justru membuka rangkaian peristiwa misterius setelah sebuah benda peninggalan bernama Rarangken dipindahkan dari tempatnya.

Peristiwa itu memicu kemunculan sosok Nyi Larang yang memiliki hubungan dengan tragedi masa lalu. Upaya Ranti untuk menghancurkan benda tersebut ternyata tidak serta-merta mengakhiri teror. Sebaliknya, tindakan itu justru membuka rahasia kelam yang telah terkubur selama puluhan tahun.

Melalui alur tersebut, Rarangken menawarkan kisah tentang rasa bersalah, misteri keluarga, dan konsekuensi ketika manusia berhadapan dengan warisan masa lalu yang belum terselesaikan.
Apresiasi terhadap Keberanian Mengangkat Budaya Lokal

Dalam sesi wawancara dengan Alin, moderator dan seorang pemerhati film nasional, apresiasi disampaikan kepada produser Wan Emily Sjahrir dan executive producer Tsani Prilia atas keberanian mereka mengangkat budaya Sunda sebagai bagian penting dari cerita film horor.

Menurut Alin, kekayaan mitos dan cerita rakyat Indonesia masih menyimpan banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi karya perfilman berkualitas.

Namun, beragam legenda dari daerah-daerah di Nusantara belum seluruhnya mendapatkan ruang yang memadai di layar lebar.

Ia menilai, film dengan latar budaya lokal dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali cerita rakyat kepada generasi muda sekaligus memperkaya identitas perfilman nasional.

Alin juga menyoroti beragam mitos yang berkembang di masyarakat Sunda, termasuk kepercayaan mengenai Sanekala, yang dinilainya masih terbuka untuk dieksplorasi oleh para sineas Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi Kak Emily selaku produser dan Kak Sani sebagai eksekutif produser. Di usianya yang masih muda, Kak Sani sudah menjadi eksekutif produser dan berani mengangkat budaya Sunda,” ujar Alin.

Ia berharap, keberanian mengangkat cerita dari satu daerah dapat menginspirasi sineas lain untuk menggali kekayaan budaya dari berbagai wilayah Indonesia.

“Indonesia itu sangat kaya akan budaya. Sayang kalau hanya menitikberatkan pada satu atau dua daerah saja. Alangkah baiknya semuanya bisa diangkat ke layar lebar,” katanya.

Film Horor Harus Memiliki Pembeda
Produser Rarangken, Wan Emily Sjahrir, menilai unsur budaya dapat memberikan karakter dan daya tarik tersendiri bagi film horor Indonesia.

Menurutnya, kekayaan tradisi, legenda, serta kepercayaan masyarakat di berbagai daerah dapat menjadi sumber cerita yang tidak pernah habis untuk dikembangkan.

Ia menegaskan, sebuah film perlu memiliki identitas dan pembeda agar tidak hanya mengulang formula yang telah banyak digunakan dalam industri perfilman.

“Film itu harus ada pembedanya, kalau sama sebaiknya tak perlu buat tapi nonton saja. Dan bila ingin membuat film harus out of the box, keluar dari kebiasaan terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.

Pandangan tersebut menegaskan pentingnya kreativitas dalam membangun cerita horor yang tidak hanya menjual ketakutan, tetapi juga menawarkan pengalaman budaya dan sudut pandang baru kepada penonton.

Dengan mengangkat legenda lokal, film horor berpotensi menjadi medium untuk memperkenalkan tradisi dan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.

Perfilman Indonesia di Tengah Persaingan Digital
Dalam kesempatan yang sama, penulis Fanny J. Poyk melalui tulisannya bertajuk Film Indonesia Dahulu dan Kini menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam industri perfilman nasional.

Ia mengingatkan bahwa era 1980-an hingga 2000-an memiliki dinamika tersendiri dalam perkembangan film Indonesia.

Sementara itu, pada periode 2020 hingga 2026, industri film menghadapi tantangan baru seiring perubahan kebiasaan menonton, berkembangnya media sosial, dan semakin mudahnya masyarakat mengakses hiburan melalui perangkat digital.

Menurut Fanny, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi para pembuat film.

Perubahan tersebut menuntut insan perfilman untuk terus berinovasi dalam mengembangkan ide, cerita, dan pendekatan kreatif.

Di tengah persaingan tersebut, penggalian budaya lokal dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan yang membedakan film Indonesia dari berbagai produk hiburan lainnya.

Kehadiran Rarangken menjadi contoh upaya menghadirkan cerita dengan identitas budaya yang kuat. Perpaduan mitos Sunda, misteri benda peninggalan, dan rahasia masa lalu diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda bagi penonton.
Diperkuat Jajaran Pemain Berpengalaman
Untuk menghidupkan kisahnya, Rarangken menghadirkan sejumlah pemain, antara lain Vanny Meisella sebagai Ranti, Tsani Prilia sebagai Mira, Yama Carlos sebagai Arman, Ika Kartika sebagai Dian, serta Ambu Rd Sonnia Soema sebagai Tetua Adat.

Film ini juga didukung Achmad Bayhaki A sebagai Dimas, Taufiq Hidayat sebagai Raka, Fardan Tamaela sebagai Jati, Zahra Putri sebagai Rarang, dan Tiara Khoerunnisa sebagai Ami.
Adapun karakter masa kecil diperankan Felicia Lindi sebagai Ranti Kecil dan Bhadramatura Abilawa sebagai Jati Kecil.

Kehadiran para pemain tersebut diharapkan mampu membangun kedalaman emosi dan misteri dalam cerita, terutama ketika para tokohnya berhadapan dengan rahasia keluarga dan peristiwa masa lalu yang belum terungkap.

Membuka Ruang bagi Horor Beridentitas Nusantara

Soft launching Rarangken menjadi salah satu momentum untuk menegaskan bahwa cerita horor Indonesia memiliki ruang pengembangan yang luas melalui penggalian budaya dan legenda lokal.

Di tengah perubahan teknologi serta persaingan industri hiburan, kreativitas sineas dalam mengolah kekayaan Nusantara dapat menjadi modal penting untuk menghadirkan karya yang memiliki ciri khas.

Perpaduan antara cerita rakyat, tradisi, dan unsur supranatural tidak hanya berpotensi menarik minat pencinta horor, tetapi juga memperkenalkan warisan budaya kepada generasi baru.

Pada kesempatan yang sama Panitia Festival Film Horor (FFHoror) mengumumkan para pemenang bulanan
Kegiatan Pengumuman pemenang  ini menjadi momentum bagi para pelaku perfilman untuk mengapresiasi karya horor sekaligus mendiskusikan pentingnya inovasi dan penggalian budaya lokal di tengah perkembangan industri hiburan digital.

Dalam pengumuman pemenang bulanan FFHoror, film Pirunduk berhasil meraih penghargaan Film Terbaik.

Prestasi tersebut semakin lengkap dengan terpilihnya Billy Christian sebagai Sutradara Terbaik dan Verly Ikraino sebagai Penata Kamera atau Director of Photography (DOP) Terbaik, yang seluruhnya diraih melalui film yang sama.

Sementara itu, kategori akting terbaik diberikan kepada Baskara Mahendra sebagai Aktor Terbaik lewat film Lubang Buaya, serta Adinda Thomas sebagai Aktris Terbaik melalui penampilannya dalam film Orang Bunian.(dd)

Must Read

Related Articles