Home Investasi Djonny Syafruddin : Film, Bioskop dan Bisnis

Djonny Syafruddin : Film, Bioskop dan Bisnis

by Admin

Pemasaran film hingga ke konsumen, dalam hal ini penonton diperlukan bioskop sebagai venue, tempat  penonton menyaksikan film.

Dalam kurun waktu lima tahun ini pertumbuhan layar bioskop sangat siginifikan. Pada lima tahun lalu hanya sekitar 800 layar sekarang ini sudah mencapai seribu lebih. Selain bioskop yang dikelola oleh Grup 21, Cinemax, dan CGV Blitz. Ada bioskop independen yang dimiliki perorangan. Bioskop independen itu kini tumbuh bagus.Di seluruh Indonesia bisokop ondepen paling banyak tersebar di di level kabupaten atau kota.

“Sekarang ini saya sudah mendirikan sekitar dua puluh satu bioskop independen,”ujar Djonny Syafruddin dalam sebuah kesempatan, baru baru ini. Bioskop-bioskop yang dimiliknya tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Bangka Belitung hingga ke Sengkang, Sulawesi Selatan. Pria berdarah Minang asal Pekanbaru, Riau ini, menjabat sebagai Ketua Gabungan Pangelola Bioskop Seluruh Indonesia, GPBSI.

Bisnis perbisokopan bukanlah hal baru bagi salah satu Penasehat Badan Perfilman Indonesia (BPI) ini. Sejak tahun 70an, Djonny muda masa itu sudah menyelami bisnis bioskop. Kawasan Jakarta Timur adalah lokasi bioskopnya dahulu, dan kini berubah fungsi sejak film nasional pada 90an terkapar alias mati suri.

Menurut Djonny tumbuhnya usaha perbioskopan ini banyak dilirik oleh investor asing. Namun, mereka harus berhitung secara detil, karena tidak semua daerah punya potensi penonton.”Lika likunya perlu belajar dari saya. Saya sudah puluhan tahun di bisnis ini,”ujarnya setengah bercanda. Karena menurut dia membangun bioskop di Indonesia, di daerah daerah tidak sama dengan di kota-kota besar di Indonesia.

Pertambahan jumlah bioskop akan berdampak positif pada kegiatan perekonomian di daerah tersebut. Karena dengan berdirinya bioskop lapangan pekerjaan terbuka. Mulai dari Office boy, penjual karcis, penyobek karcis, penjaga ke amanan, pemutar film, parker, serta bisnis kuliner.“Dan, yang pasti salah satu pendapatan asli daerah yang cukup lumayan,”kata Djonny.

Bioskop sebagai venue, harus memenuhi syarat yang aman dan nyaman. Selain lokasinya aman, mudah terjangkau, dan nyaman.”Gambar dan audionya bisa dinikmati dan standarnya hampir sama dengan bioskop yang berada di kota kota besar,”tutur Djonny.

Khusus dalam mengundang penonton banyak, film salah satu faktor utama penentu.Untuk sekarang ini selera masyarakat menurut pengakuan Djonny hampir sama. Bila di Medan sampai Makassar film itu disukai, dianggap bagus,penontonnya banyak. Maka untuk daerah lainnya, seperti Rancaekek, di Kabupaten bandung dan Cilacap serta daerah tingkat dua lainnya akan sama.”Hampir merata selera filmnya. Kalau pun ada perbedaan tidak terlalu besar, lima persen. Kecuali film yang bersetting daerah dan menggunakan bahasa daerah. Misalnya film Yo Wis Ben, produksi  Starvision Plus, di luar pulau Jawa, sedikit penontonnya,”ungkap Djonny. Pengecualian juga untuk film Barat. Di daerah daerah luar provinsi, film nasional lebih disukai.

Produser film dan pengelola bioskop meski bertujuan sama berbisnis dan mendapatkan laba. Namun untuk menyamakan persepsi tidak semudah membalikkan telapak tangan.”Ada produser yang senangnya menyalahkan pengelola bioskop. Mestinya mereka membentu dan mendorong agar usaha bioskop berjalan baik. Karena itu adalah lokasi tempat mereka berjualan,”ujar Djonny tanpa menyebut kesalahan apa yang disebutkan produser. “Duduk bersama secara berkala. Sambil ngopi-ngopi menyamakan persepsi. Belum pernah terjadi kecuali dalam forum-forum tertentu,”ungkap Djonny.

Membangun satu bioskop yang cukup memadai untuk kenyamanan menonton diperlukan investasi sekitar Rp 2,5 Miliar –Rp 3 Miliar. Invetasi angka sebesar itu untuk membangun gedung berbangku 100 orang, satu layar, lengkap dengan sarana dan prasarana.”Minimal membangun tiga layar, tiga ruang bioskop. Jadi, satu hari masyarakat bisa memilih film mana yang dia sukai,”ungkap Djonny.

Bila animo masyarakat bagus, dalam waktu tuga tahun investasi sudah balik.”Paling lama empat tahun. Itu pun kita sudah bisa mengambil sebagian untuk keperluan hidup sehari hari,”kata Djonny, yang mengaku akan terus melebarkan sayap bisnisnya di bidang perbioskopan. Anda minat? Didang P.Sasmita

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More