Home Ekonomi Pedagang Thamrin City Buka Sepi Tak Buka Mau Apa lagi

Pedagang Thamrin City Buka Sepi Tak Buka Mau Apa lagi

by Admin

Masuk ke pusat perdagangan busana di Thamrin City Jakarta Pusat, Sabtu kemarin, lengang. Hari Sabtu di masa libur kerja biasanya gedung hanya sekian rarus meter dari Bundaran Hotel Indonesia (HI), ramai lalu lalang pembeli. Tetapi Sabtu di awal September sangat lengang.

Nasral, pemilik toko Twins Kebaya, saat ditemui mengeluh panjang,”Belum ada satu pun pembeli dari pagi,” kata pria usia 40-an asal Bukittinggi, Sumatera Barat.”Kami tutup mulai Maret, dan buka kembali pertengahan Juni. Sejak buka tidak banyak pembeli. Kalau dirata rata hanya sekitar 10 persen saja barang kami yang laku dari kondisi normal,”lebih jelas lagi Nasral mengungkapkan.

Pria yang berdagang sejak masa remaja ini entah kepada siapa mengadukan nasibnya. Covid -19 dengan virus coronanya telah melumpuhkan roda ekonomi di kawasan Thamrin City dan juga tetangga mereka pasar Tanah Abang.”Sebaiknya pemerintah daerah segera mengatasi masalah ini. Kami rakyat bingung, buka sepi kalau tutup mau usaha apa lagi,” tegas Nasral. Dia punya dua toko di Thamrin City baru baru ini terpaksa memberhentikan dua karyawannya, karena sepi dan tak ada pemasukan untuk membayar gaji.

Nasib serupa dialami oleh Rahmi, pedagang sepatu dan Yurnalis yang membuka gerai kuliner di lantai tiga. Keduanya pasrah saja sambil berusaha sebisanya.”Kondisi apa pun kami harus tetap berusaha. Kalau berhenti bagaimana dengan kebutuhan sehari hari,” kata Rahmi, yang juga berjualan sepatu melalui online itu.

Yurnalis menyediakan soto padang dan masakan padang lainnya bersyukur saja yang bisa diperbuatnya.”Saya bisanya masak dan berjualan begini. Alhamdulillah, masih ada yang singgah meski hanya sedikit pemasukan,” kata dia.

Nasral, Rahmi, dan Yurnalis bersyukur sudah punya lokasi berdagang sendiri. Bagi pedagang yang sewa, menurut Nasral sudah banyak yang tidak melanjutkan dagangannya. Kondisi sepi dengan biaya sewa per tahun di kisaran 150 juta rupiah, banyak yang menyerah.” Kami ini mengandalkan pembeli utamanya dari luar daerah bahkan dari Brunei dan Malaysia. Kalau Jakarta tak berhenti dikurung corona, siapa yang mau datang dan berbelanja,” pungkas Nasral. Dia berharap pandemi ini segera mungkin berakhir. Kangdi

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More