Saturday, May 2, 2026

Menaker Mendukung Penuh Festival MAD FEST Merah Putih Wahana Pekerja Kreatif dan Film Indonesia

Skalaekonomi.com. Menteri Tenaga Kerja RI Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. menyambut baik ide dan kreatifitas dari Serikat Pekerja Kreatif dan Film Indonesia yang menyelenggarakan Festival MAD FEST Merah Putih 2026.

“Saya selaku menteri ketenagakerjaan senang sekali dengan akan diselenggarakannya MAD FEST Merah Putih ini, karena akan memberi ruang bagi pekerja kreatif untuk menyalurkan talentanya,” ujar Menaker dalam sambutannya pada acara launching Festival MAD FEST Merah Putih 2026, di Sinemal Hall, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan Jakarta, Jumat1 Mei 2026.

Menaker Yassierli juga menegaskan bahwa masa depan industri kreatif bergantung pada kolaborasi dan inovasi.

Ia mendorong pelaku industri untuk berani bermimpi dan membaca tren, sekaligus menciptakan solusi baru—termasuk kemungkinan hadirnya marketplace khusus karya kreatif.

“Kita harus membayangkan, dan menciptakan sesuatu yang berbeda dari hari ini,” kata Menaker.

Untuk memajukan pekerja kreatif dan film, khususnya, dan pekerja di sektor lain umumnya pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk mendukung pekerja kreatif, termasuk diskon 50 persen iuran jaminan sosial seperti JKK dan JKM.

Selain itu, balai pelatihan kerja di berbagai kota akan dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan industri kreatif.
Yassierli bahkan mengusulkan hadirnya “creative corner” di setiap balai sebagai ruang kolaborasi bagi para kreator.

Program ini selaras dengan inisiatif Talent and Innovation Hub yang bertujuan mencetak talenta kreatif dan inovatif di Indonesia.

Ke depan, MAD FEST Merah Putih diharapkan menjadi lebih dari sekadar festival—melainkan ruang dialog dan gerakan kolektif.

Dari pelatihan hingga sertifikasi berbasis SKKNI, festival ini bisa menjadi titik awal pembenahan industri perfilman nasional.

“Kolaborasi adalah kunci agar industri maju dan kesejahteraan pekerja meningkat,” kata Yassierli.
 

Sementara itu inisiator sekaligus Ketua Penyekengga MAD FEST Merah Putih, H. Sonny Pudjisasono, SH, MBA, dalam sambutannya mengatakan, di tengah gemerlap industri perfilman, ada suara yang selama ini kerap luput terdengar—suara para pekerja kreatif di balik layar.

Lewat MAD FEST Merah Putih, suara itu kini menemukan panggungnya sendiri, bukan hanya untuk diapresiasi, tetapi juga diperjuangkan.

 Sonny Pujisasono, menegaskan bahwa festival film pendek ini tidak sekadar menghadirkan tontonan yang estetis, tetapi juga membawa pesan yang lebih dalam: keberagaman dan aspirasi pekerja kreatif.
Menurutnya, konsep festival dirancang untuk tetap menarik secara visual tanpa kehilangan substansi.

“Lebih atraktif dan estetis, tetapi misinya tetap tercapai, mangasoirasikan keberagaman para pekerja.”

Festival Film Pendek ini akan diluncurkan bertepatan dengan Hari Buruh Internasional dan dirancang menjadi agenda tahunan.

Puncaknya akan berlangsung setiap 8 Agustus, menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia—sebuah simbol perjalanan perjuangan pekerja kreatif bagi bangsa.

Di katakan Sonny, MAD FEST Merah Putih diinisiasi oleh Serikat Pekerja Kreatif Perfilman Indonesia bersama Citra Film School dan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail.

Inisiatif ini muncul dari realitas pahit: masih minimnya perlindungan sosial dan jaminan kesejahteraan bagi pekerja film.
Baik pekerja senior maupun pendatang baru disebut masih banyak yang belum memiliki payung hukum dan perlindungan yang layak.

“Kami ingin sekali serikat ini menjadi jangkar perlindungan sosial bagi seluruh pekerja kreatif,” jelas Sonny.

Di samping itu, Sonny juga menyampaikan
di lurar isu kesejahteraan, persoalan pengarsipan film juga menjadi sorotan serius.

Banyak film Indonesia yang sukses besar—ditonton hingga jutaan penonton—namun belum memiliki sistem dokumentasi yang memadai.
Akibatnya, karya-karya tersebut terancam hilang dari akses generasi mendatang.

“Kami tegaskan film bukan hanya hiburan, tetapi artefak budaya bangsa,” katanya menekankan menekankan pentingnya menjaga warisan sinema nasional.

Ketimpangan antara apresiasi publik dan kesejahteraan pekerja menjadi ironi yang masih terjadi di industri ini.

Sonny berharap pemerintah, khususnya melalui Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, dapat menghadirkan kebijakan konkret.

“Harapan kami bukan harapan semata, tapi regulasi nyata yang melindungi pekerja kreatif,”tegas Sonny menutup sambutannya.(id)

Must Read

Related Articles