Skalaekonomi.COM – Minggu pagi (21 Juni 2026), sepanjang jalan Rasuna Said, Kuningan, Setia Budi, Jakarta diramaikan oleh masyarakat yang berolahraga atau jalan kaki menikmati ruang Car Free Day yang baru beberapa pekan ini diresmikan oleh Pemda DKI Jakarta.
Pada kesempatan ini Ketua Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail (YPPHUI) Pudjisasono menginisiasi dengan menyediakan fasilitas panggung gembira di halaman Gedung Museum Perfilman Sinematek Indonesia.
“Kami menyediakan panggung dilengkapi dengan sound sistem untuk para pelaku seni tampil. Silakan kami sediakan gratis. Ada mau promo lagu baru, launching film, stand up comedy, dan seni lainnya,”ujar Sonny ditemui di sela sela acara Panggung Gembira.
Kesempatan juga diberikan kepada masyarakat usaha kecil dan menengah (UMKM) untuk membuka booth baik makanan maupun produk lainnya.
“Mereka yang berjualan tidak kami pungut biaya, hanya donasi kebersihan saja. Meja, kursi kami siapkan. Mereka hanya membawa produk yang akan dipromokan,” kata Sony yang pagi itu didampingi artis Harry De Fretes, Ageng Kiwi, dan Valdi Mulya.
Kehadiran Harry De Fretes, bersama kru Lenong Jaman Now berkaitan akan dipentaskannya cerita Halte Rumpi yaang dipentaskan di Sinema Hall Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, 19 Agustus 2026, memeriahkan puncak acara penganugerahan MAD FEST Merah Putih pada 18 Agustus 2026 mendatang.
” Saya ingin promokan adanya acara pementasan Leong Jaman Now pada hari ini, agar generasi muda sekarang mengenal dan mencintai seni Betawi lenong,”ujar Harry De Fretes yang bahagia acara Lenong Jaman Now menyuguhkan cerita Halte Rumpi mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Betawi DKI Jakarta.
“Bersyukur juga kami bisa bekerjasama dengan Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail, khususnya terimakasih saya ucapkan kepada Ketua YPPHUI, Pak Sonny Pudjisasono,” jelas Boim alias Harry De Fretes yang terkenal namanya lewat Lenong Rumpi di tahun 90an.
Seniman senior Ageng Kiwi berharap program ini dapat merangkul seluruh elemen masyarakat yang memiliki jiwa seni.
“Lokasi Museum Perfilman Sinematek Indonesia ini adalah ruang bersejarah tempat berkumpulnya para seniman. Saya berharap tempat ini bisa terus menyelenggarakan kegiatan positif, seperti panggung open mic, promosi musik, hingga rencana lomba akting untuk anak-anak ke depannya,” kata Ageng Kiwi.
Sedangkan penyanyi dan aktor muda Valdi Mulya berpendapat keberadaan wadah gratis di area CFD ini sangat membantu para sineas dan Rumah Produksi (PH) dalam mensosialisasikan karya terbaru mereka langsung kepada masyarakat tanpa terbebani biaya promosi yang besar.
“Ini acara benar-benar bagus banget. Sangat membantu kami, para sineas dan PH di Indonesia, untuk memiliki wadah berkarya. Semoga ke depan kegiatan di area CFD Rasuna Said ini semakin ramai,” tutur Valdi yang juga tengah disibukkan dengan persiapan beberapa proyek film terbarunya.
Selain panggung hiburan yang diisi dengan senam aerobik, zumba, hingga penampilan musik, pihak yayasan juga memfasilitasi area booth kuliner untuk pembinaan UKM dengan sistem donasi sukarela guna menjaga kebersihan dan keamanan.
Tak hanya itu, secara berkala di halaman Museum Perfilman Sinematek Indonesia juga menggelar pameran koleksi sejarah perfilman dari museum Sinematek.
Dalam pameran itu menampilkan poster, foto foto film film dari tahun 50an hingga sekarang. Di situ juga dipajang alat dan perlengkapan produksi film jaman dahulu seperti kamera dan proyektor teknologi manual.***

